Yap, kalo wisata rally udah sering diadakan di batam. Wisata untuk orang-orang berduit tentunya, soalnya kan harus punya mobil..masa naek ojek 
Lalu ada apa dengan wisata ruli?? Teruslah membaca, karena sebentar lagi anda akan tau impian saya untuk Batam kedepan.. (namanya juga impian dan harapan, ga salah donk..)
Dari dulu masalah ruli memang suatu berita yang sangat akrab ditelinga penduduk batam, coba saja anda pergi ke daerah lain dan bercerita tentang ruli (Rumah Liar), pasti tidak ada yang mengerti..Soalnya istilah ruli Cuma ada di batam..hhe..
Penggusuran ruli di batam kita ketahui merupakan pekerjaan yang bisa dibilang menyita tenaga, waktu dan perasaan(soalnya kita juga nggak tega liat ibu-ibu menangis melihat rumahnya diratakan dengan tanah..). Setelah proses penggusuran selesai dan lahan yang mereka tempati itu telah rata, jangan harap minggu depan anda akan melihat pemandangan yang sama.
Kenapa?? Karena pembangunan ruli kembali dilakukan!
Lalu beberapa bulan kedepan, kembali dilakukan penggusuran di lahan tersebut. Mereka tak akan pernah jera, tetap membangun setelah para petugas menggusur rumah mereka. Lalu sampai kapan fenomena ini akan selesai?? Bukan kah itu benar-benar menyita waktu dan tenaga?? Belum lagi masalah pedagang kaki lima, setelah gerobaknya diambil, besok akan datang gerobak baru yang lebih berat, setelah kios mereka dirobohkan, besok anda akan melihat kios yang lebih kuat..hahaha..hebat!
Lalu terbayang dalam pikiran saya, kenapa ruli dan pedagang kaki lima tidak dimanfaatkan untuk objek wisata?? Apa mungkin?? Teruslah membaca jika anda percaya dengan saya 
Ternyata anda percaya dengan saya. (buktinya masih lanjut membaca…hhe..terima kasih…)

(Sumber:mediaindonesia.com)
Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, saya memiliki ide untuk menjadikan rumah liar dan pedagang kaki lima menjadi objek wisata yang menarik, sehat, aman, dan berkesan!
(yah, namanya juga impian untuk Batam kedepan, ga dilarang kn…)
Konsepnya begini, Ruli dan pedagang kaki lima yang “berserakan” dimana-mana kita kumpulkan bersama, berkumpul atas nama masyarakat yang bercita-cita memajukan batam (kalo udah maju, kan yang untung pedagang juga..ya ga!). Setelah itu, disediakan lah sebuah lahan yang bernama “KAMPUNG RULI” dengan desain pedesaan, disana merupakan sebuah lahan resmi yang dikelola pemerintah untuk masyarakan yang tinggal di ruli dan pedagang kaki lima. Di Kampung Ruli itu, mereka boleh membangun rumah dan usaha mereka sesuai dengan tata letak yang telah didesain oleh pemerintah kota Batam dengan kriteria:
1. Rumah harus terbuat dari papan yang layak.. (agar tahan lama tentunya)
2.Tidak menggunakan atap seng. (supaya kesan pedesaannya lebih terasa)
3.Tidak boleh mengunakan kendaraan mobil. (agar pengunjung merasakan ketenangan dan bebas kebisingan)
4. Pembuatan rumah harus rapi dan bersih. (kalo berserakan, ya sama kaya ruli lagi donk! Hahaha….)
5. Setiap rumah harus memili 3 pohon dan 5 jenis bungan (Biar asri dan rindang… kan kita mau bikin konsep desa…harus adem…demm..dem..)
6. Tidak memilhara hewan yang dapat mengganggu ketenangan (ya, wallet misalnya, orang mau ngilangin stress, malah dengerin nyanyian wallet…..kan mengganggu…)
Setelah semua selesai, Batam memiliki sebuah komplek Ruli yang dulunya identik dengan situasi yang kumuh, menjadi sebuah lahan yang indah dan nyaman, mempunyai lahan untuk pedagang dengan tempat berjualan yang bebas dari penggusuran.

Ilustrasi(sumber:http://rudipunyagaye.blogsome.com/2006/10/30/gunung-bunder/)
Wisatawan mana yang tidak akan senang bila disuguhi sebuah kota kecil yang memiliki sebuah tempat wisata yang bernuansa perkampungan asri….(Di Batam kan belum ada…)
COME TO BATAM!!